Powered by Blogger.
Showing posts with label Nurse Saince. Show all posts
Showing posts with label Nurse Saince. Show all posts

Tuesday, 23 April 2013

SEKILAS TENTANG POLIOMYELITIS (PENYAKIT POLIO)


Dr. Suparyanto, M.Kes





1.1 Latar Belakang
Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 tahun. Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki, tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf , sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen.

Penyakit polio pertama terjadi di Eropa pada abad ke-18, dan menyebar ke Amerika Serikat beberapa tahun kemudian. Penyakit polio juga menyebar ke negara maju belahan bumi utara yang bermusim panas. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan rata-rata orang yang menderita penyakit polio meninggal, sehingga jumlah kematian meningkat akibat penyakit ini. Penyakit polio menyebar luas di Amerika Serikat tahun 1952, dengan penderita 20,000 orang yang terkena penyakit ini ( Miller,N.Z, 2004 ).

Jenis Polio antara lain :
1. Polio Non-Paralisis        
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, saki perut, lesu dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.

2. Polio Paralisis Spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami

MEKANISME KOPING PADA PENDERITA KUSTA


Dr. Suparyanto, M.Kes



Kusta merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh masyarakat. Penderita kusta bukan menderita karena penyakitnya saja, tetapi juga karena dikucilkan masyarakat sekitarnya. Hal ini akibat kerusakan saraf besar yang ireversibel diwajah dan anggota gerak, motorik dan sensorik, serta dengan adanya kerusakan yang berulang-ulang pada daerah mati rasa disertai kelumpuhan dan mengecilnya otot (Djuanda, 2008).

Minimnya informasi yang benar tentang penyakit kusta membuat persepsi salah pada masyarakat sehingga kerap menganggap penyakit kusta sebagai penyakit kutukan, penyakit keturunan, akibat guna-guna, salah makan, hingga penyakit sangat menular dan tidak dapat disembuhkan. Pamahaman keliru melahirkan tindakan keliru oleh masyarakat. Penderita kusta semakin malang. Ketakutan masyarakat tertular, membuat mereka tega mengusir penderita kusta. Bahkan, yang sudah sembuh dan tidak menular kesulitan untuk memulai hidupnya lagi (Anonim, 2009 dikutip Syahrial, 2010). Penderita yang mengalami tekanan batin terus-menerus dapat menyebabkan penderita tersebut menjauhkan diri dari lingkungan atau menarik diri dari pergaulan di masyarakat. Kondisi tersebut justru akan memperberat penderita dan menghambat proses pengobatan, oleh karena itu penatalaksanaan untuk penderita kusta di samping pengobatan dan pemberantasan kusta secara fisik dengan pengobatan juga harus memperhatikan kondisi psikis penderita tersebut.

KONSEP PARITAS / PARTUS


Dr. Suparyanto, M.Kes


KONSEP PARITAS / PARTUS

Pengertian paritas
  • Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita (BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara.
  • Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28 minggu) (JHPIEGO, 2008). Sedangkan menurut Manuaba (2008), paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterm.



Klasifikasi Paritas
1. Primipara
  • Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup di dunia luar (Varney, 2006).
2. Multipara
  • Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak lebih dari satu kali (Prawirohardjo, 2009).
  • Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viabel (hidup) beberapa kali (Manuaba, 2008).
  • Multigravida adalah wanita yang sudah hamil, dua kali atau lebih (Varney, 2006).
3. Grandemultipara
  • Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan (Manuaba, 2008).
  • Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Rustam, 2005).
  • Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih (Varney, 2006).

SEKILAS TENTANG PENYAKIT DIFTERI


Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT DIFTERI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang
Difterimerupakansalahsatupenyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, Nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat, udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

Penderita difteri umumnya anak-anak, usia dibawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak-anak muda. Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat penduduk tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.

Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria, Pertusis, Tetanus), penyakit difteri jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

1.2 TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1)    Untuk mengetahui factor agent penyakit Difteri.
2)    Untuk mengetahui factor host penyakit difteri.
3)    Untuk mengetahui environment penyakit difteri.
4)    Untuk mengetahui port of entry and exit penyakit difteri.
5)    Untuk mengetahui transmisi penyakit difteri.
6)    Untuk mengetahui pencegahan penyakit difteri.
7)    Pengobatan penyakit difteri.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Agent
Kuman coryne bacterium diphtheria

2.2 Faktor Host
1)            Kondisi imun pada orang tersebut lemah.
2)            Kurangnya kebersihan diri.
3)            Orang tersebut sering bepergian ketempat yang kumuh atau ketempat ada penderita penyakit difteri.
4)            Faktor umur, status gizi, status social ekonomi, dan perilaku.

SEKILAS TENTANG PENYAKIT CAMPAK



Dr. Suparyanto, M.Kes

SEKILAS TENTANG PENYAKIT CAMPAK

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
1. Rubela/campak
Rubella yang sering dikenal dengan istilah campak Jerman atau campak 3 hari adalah sebuah infeksi yang menyerang terutama kulit dan kelenjar getah bening. Penyakit ini disebabkan oleh virus rubella ( virus yang berbeda dari virus yang menyebabkan campak), yang biasanya ditularkan melalui cairan yang keluar dari hidung atau tenggorokan.

Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui aliran darah seorang wanita yang sedang hamil kepada janin yang dikandungnya. Karena penyakit ini tergolong penyakit ringan pada anak – anak, bahaya medis yang utama dari penyakit ini adalah infeksi pada wanita hamil, yang dapat menyebabkan sindrom cacat bawaan pada janin tersebut. Sebelum vaksin melawan rubella tersedia pada tahun 1969, epidemi rubella terjadi, 6 – 9 tahun. Anak- anak dengan usia 5 - 9 menjadi korban utama dan muncul banayak kasus rubella bawaan. Sekarang, dengan adanya program imunisasi pada anak - anak dan remaja usia dini, hanya muncul sedikit kasus rubella bawaan.

Infeksi rubella berbahaya bila terjadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50% sedangkan jika infeksi terjadi trimester pertama maka resikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologist, 1981).

2. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penyusunan makalah ini memiliki tujuan umum yaitu untuk memenuhi salah satu tugas Epidemiologi.

2. Tujuan Khusus
1)    Mengetahui pengertian tentang rubella
2)    Mengetahui tentang penyebab-penyebab rubela
3)    Mengetahui jenis dan gejala rubella
4)    d.Mengetahui pencegahan rubela
5)    Mengetahui tentang pemberantasan rubela
6)    Mengetahui tentang pengobatan rubela


KONSEP POSISI PERSALINAN



Tak ada posisi melahirkan yang paling baik. Posisi yang dirasakan paling nyaman oleh si ibu adalah hal yang terbaik. Namun umumnya, ketika melahirkan dokter akan meminta ibu untuk berbaring atau setengah duduk. Namun pada saat proses melahirkan berlangsung, tidak menutup kemungkinan dokter akan meminta ibu mengubah posisi agar persalinan berjalan lancar. Misalnya, pada awal persalinan ibu diminta berbaring, namun karena proses kelahiran berjalan lamban maka dokter menganjurkan agar ibu mengubah posisinya menjadi miring (Revina Pevi, 2010).
      
Ada 4 posisi melahirkan. Masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan sendiri yaitu :

a. Posisi Berbaring
       Berbaring terlerlentang datar pada punggungnya atau dengan tubuh diangkat sedikit (kurang dari 45°). Kedua kakinya tidak lurus, ditekuk dengan telapak kaki di tempat tidur (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

Kelebihan:
1.    Dokter bisa lebih leluasa membantu proses persalinan. Jalan lahir pun menghadap ke depan, sehingga dokter dapat lebih mudah mengukur perkembangan pembukaan dan waktu persalinan pun bisa diprediksi secara lebih akurat.
2.    Kepala bayi lebih mudah dipegang dan diarahkan, sehingga apabila terjadi perubahan posisi kepala bayi, maka dokter langsung bisa mengarahkan pada posisi yang seharusnya (Revina Pevi, 2010).
Kelemahan:
1.    Posisi berbaring membuat ibu sulit untuk mengejan. Hal ini karena gaya berat tubuh ibu yang berada di bawah dan sejajar dengan posisi bayi.
2.    Posisi ini pun diduga bisa mengakibatkan perineum ( daerah di antara anus dan vagina ) meregang sedemikian rupa sehingga akan terjadi  ruptur perinium.
3.    Menempatkan janin pada suatu sudut dorong yang tidak menguntungkan dalam berhubungan dengan panggul sehingga dapat mengakibatkan persalinan berjalan lama (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).
4.    Pengiriman oksigen melalui darah yang mengalir dari si ibu ke janin melalui plasenta pun jadi relatif berkurang. Hal ini karena letak pembuluh besar berada di bawah posisi bayi dan tertekan oleh massa/berat badan bayi. Apalagi jika letak ari-ari juga berada di bawah si bayi. Akibatnya, tekanan pada pembuluh darah bisa meninggi dan menimbulkan perlambatan peredaran darah balik ibu (Revina Pevi, 2010).

b. Posisi Miring atau Lateral
       Ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan dengan salah satu kaki diangkat, sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi ini umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat (Revina Pevi, 2010).
       Ibu berbaring miring dengan kedua pinggul dan lutut dalam keadaan fleksi dan ditempatkansebuah bantal, atau kaki atasnya diangkat dan disokong (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

Kelebihan:
1.    Selain peredaran darah balik ibu ke janin mengalir lancar, pengiriman oksigen dalam darah dari ibu ke janin melalui plasenta juga tidak terganggu. Sehingga proses pembukaan akan berlangsung secara perlahan-lahan sehingga persalinan berlangsung lebih nyaman (Revina Pevi, 2010).
2.    Menghindarkan tekanan terhadap tulang sakrum (berbeda dengan posisi duduk atau terlentang).
3.    Dapat mengatasi masalah detak jantung janin, jika berkaitan dengan terjadinya kompresi tali pusat (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).
Kelemahan:
1.    Posisi miring ini menyulitkan dokter untuk membantu proses persalinan karena letal kepala bayi susah dimonitor, dipegang, maupun diarahkan.
2.    Mengalami kesulitan saat melakukan tindakan episiotomy (Revina Pevi, 2010).

c. Posisi Jongkok
Merendahkan tubuhnya dari posisi berdiri ke jongkok dengan kedua kaki datar di lantai atau tempat tidur, biasanya ibu berjongkok di atas bantalan empuk yang berguna menahan kepala dan tubuh bayi (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

Kelebihan:
1.    Merupakan posisi melahirkan yang alami karena memanfaatkan gaya gravitasi bumi  (Revina Pevi, 2010).
2.    Posisi ini dapat membantu mempercepat kemajuan persalinan kala II dan mengurangi rasa nyeri yang hebat (Asri dan Clervo, 2010).
3.    Memperluas pintu bawah panggul dengan menambah diameter intertuberositas.
4.    Membutuhkan usaha mengejan yang lebih sedikit dibandingkan dengan posisi horisontal (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).
Kekurangan:
1.    Selain berpeluang membuat cedera kepala bayi, posisi ini dinilai kurang menguntungkan karena menyulitkan pemantauan perkembangan pembukaan dan tindakan-tindakan persalinan lainnya, semisal episiotomy (Revina Pevi, 2010).
2.    Jika dilanjutkan dalam waktu lama,posisi ini akan menekan pembuluh darah dan serat-serat saraf dibelakang sendi lutut,mengganggu sirkulasi dan mungkin akan menyebabkan neoropi akibat terjepit (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

d. Posisi Setengah Duduk
       Pada posisi ini, ibu duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping (Revina Pevi, 2010).
Posisi duduk dengan tubuh membentuk sudut >45° terhadap tempat tidur (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

       Posisikan si Ibu dengan bantal di punggungnya, atau minta suami untuk duduk membelakangi si Ibu. Pada waktu kontraksi, bungkukkan badan ke depan atau tarik kaki ke atas (Redoren, 2008).
 
Kelebihannya:
1.    Sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh janin untuk bisa keluar jadi lebih pendek. Suplai oksigen dari ibu ke janin pun juga dapat berlangsung secara maksimal (Revina Pevi, 2010).
2.    Posisi ini seringkali nyaman bagi ibu dan ia bisa beristirahat dengan mudah diantara kontraksi jika merasa lelah (Hidayat Asri dan Sujiatini, 2010).

Kelemahan:
1.    Posisi dapat menimbulkan rasa lelah dan keluhan punggung pegal. Apalagi jika proses persalinan tersebut berlangsung lama (Revina Pevi, 2010).
2.    Tekanan pada tulang sakrum dan koksigis dapat mengganggu gerakan sandi panggul (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).


DAFTAR PUSTAKA

Alimul, H.Aziz. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Asri, Dwi dan Clervo, Cristine. 2010. Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha Medika.
Gupta, J.K., & Nikdem, V.C. (2003). Position for women during second stage of labor. In The Cochrane Review issue 2.www.lamaze.org diakses pada 10 April 2012.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2009. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan, dan Keluarga berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Mochtar, Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Mubarak, W Iqbal. 2011. Promosi Kesehatan Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka cipta.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Edisi III. Jakarta: Salemba Medika.
Revina, pevi. 2010. www.bidanku.com. Di akses pada 13 april 2012.
Setiadi. 2007. Konsep & Penulisan, Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Simkin, Penny dan Ancheta Ruth. 2005. Buka Saku Persalinan. Jakarta: ECG.
Sofyan, Mustika. 2008. 50 Tahun Ikatan Bidan Indosesia Bidan Menyongsong masa Depan. Jakarta: PP IBI.
Supriatmaja. Hasil Penelitian Pengaruh Senam Hamil . (http:www. Kalbe. Co.id. ), diakses pada 13 April 2012.

Tuesday, 2 October 2012

Sejarah Keperawatan Di Dunia dan Indonesia


BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Keperawatan Dunia
Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat muslim pertama yaitu Siti Rufaidah pada jaman Nabi Muhammad S.A.W, yang selalu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Ada pula yang mengenal sebagai Rufaidah binti Sa’ad/Rufaidah Al-Asalmiya dimana dalam beberapa catatan publikasi menyebutkan Rufaidah Al-Asalmiya, yang memulai praktek keperawatan dimasa Nabi Muhammad SAW adalah perawat pertama muslim (Kasule, 2003; Mansour & Fikry, 1987). Sementara sejarah perawat di Eropa dan Amerika mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern, Negara di timur tengah memberikan status ini kepada Rufaidah, seorang perawat muslim (Jan, 1996). Talenta perjuangan dan kepahlawanan Rufaidah secara verbal diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi di perawat Islam khususnya di Arab Saudi dan diteruskan ke generasi modern perawat di Saudi dan Timur Tengah 2) (Miller Rosser, 2006)

Selama ini pula perawat Indonesia khususnya lebih mengenal Florence Nightingale sebagai tokoh keperawatan, yang mungkin saja lebih dikarenakan konsep keperawatan modern yang mengadopsi litelature barat.

Florence Nightingale (12 Mei 1820-13 Agustus 1910) adalah pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistik. Ia dikenal dengan nama Bidadari Berlampu (bahasa inggris The Lady With The Lamp) atas jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan korban perang pada perang krimea, di semenanjung krimea, Rusia

Florence Nightingale menghidupkan kembali konsep penjagaan kebersihan rumah sakit dan kiat-kiat juru rawat. Ia memberikan penekanan kepada pemerhatian teliti terhadap keperluan pasien dan penyusunan laporan mendetil menggunakan statistik sebagai argumentasi perubahan ke arah yang lebih baik pada bidang keperawatan di hadapan pemerintahan Inggris.

Florence dilahirkan dalam keluarga berada dan tumbuh sebagai wanita yang menawan dan periang yang mempunyai masa depan yang cerah. Bagaimanapun penderitaan yang dilihatnya semasa peperangan di semenanjung Krim di Rusia tahun 1858, menyebabkan hati Florence Nightingale tersentuh melihat penderitaan tentara yang luka dan dibiarkan saja dalam rumah sakit yang kotor.. Florence Nightingale dikenal sebagai perawat dan teoris pertama yang memiliki body of knowledge keperawatan. Nigtingale menekankan fokus intervensi keperawatan adalah membuat lingkungan yang kondusif bagi manusia untuk hidup sehat. Sebagian besar dari pemikiran Nightingale masih relevan dengan pendidikan keperawatan di Indonesia pada masa sekarang maupun yang akan datang.

Keperawatan lahir sejak naluriah keperawatan lahir bersamaan dengan penciptaan manusia perkembangan keperawatan dipengaruhi dengan semakin maju peradaban manusia maka semakin berkembang keperawatan

Perkembangan dipengaruhi oleh perawatan dan pengobatan zaman purba
Orang-orang pada zaman dahulu hidup dalam keadaan primitive. Namun demikian mereka sudah mampu sedikit pengetahuan dan kecakapan dalam merawat atau mengobati. Orang ahli tersebut kemudiajn disebut ahli obat-obatan = dukun dalam pengobatannya dukun antara lain memperhatikan aturan-aturan sebagai berikut :

Suatu kepercayaan yang menganjurkan bahwa alam sendiri memberikan petunjuk-petunjuk tentang obat yang akan dipakai misalnya Luka yang berdarah di beri balutan atau kain yang berwarna merah/daun merah. Apabila sakit kuning di beri obat minum dari akar-akaran atau kulit tumbuhan berwarna kuning.

Suatu ajaran yang mempercayai akan adanya kekeuatanm daya pemindahan. Misal : Pada waktu seorang wanita akan melahirkan, diberi air rendaman daun dan membuka lebar-lebar semua pintu.

Perawatan pada beberapa bangsa dan Negara.

Mesir
Bangsa mesir pada zaman purba telah menyembah banyak dewa. Dewa yang terkenal antara lain Isis. Mereka beranggapan bahwa dewa ini menaruh minat terhadap orang sakit dan memberikan pertolongan pada waktu si sakit sedang tidur. Didirikanlah kuil yang merupakan rumah sakit pertama di mesir
Ketabiban. Ilmu ketabiban terutama ilmu bedah telah dikenal oleh bangsa mesir zaman purba (± 4800 SM). Dalam menjalankan tugasnya sebagai tabib

UNTUK LEBIH LENGKAPNYA SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

UNTUK FILE PRESENTASENYA (ppt) SILAKAN DIDOWNLOAD DISINI

Sunday, 30 September 2012

TEKNIK RELAKSASI dan DESENSITITASI SISTEMATIS


TEKNIK RELAKSASI dan DESENSITITASI SISTEMATIS

TEKNIK RELAKSASI

A.     KONSEP DASAR

Teknik relaksasi ini  dirintis oleh Edmund Jacobson (1929), dengan berpedoman bahwa pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan berada dalam peripheral musculature.
Asumsi dasar yang melatarbelakangi teknik relaksasi adalah bahwa individu memiliki kecemasan-kecemasan yang timbul dari keadaan fisik maupun psikisnya, sehingga diperlukan usaha untuk menyalurkan kelebihan energi dalam dirinya melalui suatu kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan. Relaksasi tidak menganggap penting usaha pemecahan masalah penyebab terjadinya ketegangan melainkan menciptakan kondisi individu yang lebih nyaman dan menyenangkan
Ada beberapa pengertian mengenai relaksasi, yaitu:
1.      Relaksasi merupakan salah satu cara untuk mengistirahatkan fungsi fisik dan mental sehingga menjadi rileks (Suryani,2000)
2.      Relaksasi merupakan kegiatan untuk mengendurkan ketegangan, pertama-tama ketegangan jasmaniah yang nantinya akan berdampak pada penurunan ketegangan jiwa (Wiramihardja,2006)
3.      Relaksasi merupakan upaya sejenak untuk melupakan kecemasan dan mengistirahatkan pikiran dengan cara menyalurkan kelebihan energi atau ketegangan (psikis) melalui sesuatu kegiatan yang menyenagkan
4.      Relaksasi dapat memutuskan pikiran-pikiran negatife yang menyertai kecemasan (Greenberg,2000)
5.      Chaplin (1975) memberi pengertian relaksasi sebagai kembalinya otot ke keadaan istirahat setelah kontraksi. Atau relaksasi merupakan suatu keadaan tegang yang rendah dengan tanpa adanya emosi yang kuat.

B.     JENIS-JENIS TEKNIK RELAKSASI
Lichstein (1988), mengemukakan jenis-jenis teknik relaksai antara lain:

Kelenjar endokrin ppt

https://docs.google.com/open?id=0BzcHQqiVKIXPRzJmclhTZG9BSVE

askep meningocel pada anak


Spina bifida yaitu anomali perkembangan yang ditandai oleh kelainan penutupan selubung tulang pada medulla spinalis, dimana selaput meninges dapat menonjol keluar (spina bifida cystica) atau tidak menonjol (spina bifida occulta).

                Keadaan ini biasa terjadi pada minggu keempat masa embrio. Penyebabnya belum pasti diketahui, tetapi dari beberapa penelitian diduaga akibat :
  1. Genetik
  2. Kekurangan asam folat dalam masa kehamilan
  3. ibu dengan epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya dan mengkonsumsi obat asam valproic
  4. Terdapat beberapa jenis spina bifida :
  5. Spina bifida okulta (tersembunyi) : bila kelainan hanya sedikit, hanya ditandai oleh bintik, tanda lahir merah anggur, atau ditumbuhi rambut dan bila medula spinalis dan meningens normal.
  6. Meningokel : bila kelainan tersebut besar, meningen mungkin keluar melalui medula spinalis, membentuk kantung yang dipenuhi dengan CSF. Anak tidak mengalami paralise dan mampu untuk mengembangkan kontrol kandung kemih dan usus. Terdapat kemungkinan terjadinya infeksi bila kantung tersebut robek dan kelainan ini adalah masalah kosmetik sehingga harus dioperasi.
  7. Mielomeningokel : jenis spina bifida yang paling berat, dimana sebagian dari medula spinalis turun ke dalam meningokel.
          Pada kasus meningocele yaitu adanya penonojolan punggung tulang belakang, benjolan ruas tulang tersebut berisi cairan spinal (liquor cerebro spinal) dan tidak merusak jaringan syaraf serta tidak mengakibatkan kelumpuhan bagi penderitanya.


A. DEFINISI

  1. Meningokel adalah meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan berisi cairan di bawah kulit. 
  2. Menurut http://noorarifah.blogspot.com disebutkan bahwa meningokel – merupakan sebuah sakus yang mengandung cairan serebrospinalis (cerebrospinal fluid, CSF) dan meninges. Meningokel dapat berupa defek tertutup atau terbuka. 
  3. Meningokel yaitu adanya defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan yang abnormal korda spinalis atau penutupannya. 
  4. Menurut situs lainnya yaitu http://www.mail-archive.com dikatakan bahwa meningocel adalah gangguan pertumbuhan karena tidak menyatunya lapisan -lapisan jaringan tubuh di garis tengah akibat adanya defect pada lapisan tsb.
  5. Dalam http://artykel-kebidanan.blogspot.com disebutkan bahwa meningokel merupakan penyakit kongenital dari kelainan embriologis yang disebut Neural tube defect (NTD). 
  6. Menurut http://images.google.co.id dinyatakan bahwa Meningokel adalah meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan dari cairan dibawah kulit. Adapun pada meningokel melibatkan tiga hal yaitu menonjolnya meninges, sumsum tulang belakang, dan cairan serebrospinal.
B. ETIOLOGI
  1. Gangguan pembentukan komponen janin saat dalam kandungan. 

Saturday, 29 September 2012

Kumpulan Asuhan Keperawatan lengkap

Salam Nurse,.....
Asuhan keperawatan merupakan hal yang tak asing lagi bagi perawat, khusunya mahasiswa perawat ,....
Semoga asuhann keperawatan dibawah ini bermanfaat bagi semuanya,.. khusuya para mahasiswa perawat,..
  1. Askep bayi dengan BBL
  2. Askep stroke
  3. Askep anak sengan diare
  4. Askep Ca Laring
  5. Askep CAD
  6. Askep Decom Cordis
  7. Askep Dengan Eliminasi Alvi
  8. Askep Diare
  9. Askep Effusi Pleura
  10. Askep GGK
  11. Kelenjar endokrin ppt

Semua Askep diatas merupakan hasil dari studi kami ketika kuliyah,...
Trimakasih,.... Atas kunjungan anda,..
Semoga bermanfaat,.. Amiin,....